Author Topic: Bahasa Indonesia; Canvas : American Way Revolution  (Read 2539 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline elvis

  • Moderator
  • *****
  • Posts: 45
  • Gender: Female
  • I Am Free
Bahasa Indonesia; Canvas : American Way Revolution
« on: August 14, 2012, 12:38:05 PM »
This article has been translated by a volunteer translator. Neither WL nor The Official WikiLeaks Forum shall be held accountable for errors.  The reader is welcome to check him/herself the original source linked below, and to comment if there is an error or misinterpretation. If an error is identified we shall endeavor to correct it.

Original Publisher’s URL: http://apublica.org/2012/06/revolucao-a-americana/
Original Forum Topic: http://www.wikileaks-forum.com/index.php/topic,12773.0.html

Translated by the_joker


Canvas : American Way Revolution
Canvas :  Revolusi Cara Amerika

Dokumen dokumen Wikileaks menunjukkan bagaimana organisasi oposisi bertindak mendunia – dari Mesir hingga Venezuela

Pada bagian atas dokumen, sebuah tinju muncul sebagai trademark organisasi. Pada bagian berikutnya anda dapat membaca : “Ada kecenderungan presiden yang sangat kuat di Venezuela. Bagaimana kita mengubahnya? Bagaimana kita dapat mengerjakannya?” Dibawahnya, para pembaca akan melihat kalimat: “Ekonomi: Minyak Venezuela bukanlah milik pemerintah, itu adalah uang kalian, itu adalah hak kalian!(….) Pesan ini perlu disesuaikan kepada para pemuda, bukan hanya pada mahasiswa (….) Dan para ibu, apa yang mereka inginkan? Kontrol undang undang, polisi bertindak dibawah pemerintahan daerah, kami akan mempersiapkan kebutuhan untuk itu.”

Tulisan tersebut tidak dalam bahasa Spanyol, tidak juga ditulis oleh oposisi Venezuela, tetapi ditulis dalam Bahasa Inggris, dan oleh sebuah kelompok pemuda yang berlokasi di belahan lain planet ini – Serbia.

Dokumen yang berjudul “Analisa Situasi Venezuela, Januari 2010”, dibuat oleh Canvas Organization, yang berkantor pusat di di Belgrade, salah satu dari banyak dokumen Stratfor yang dibocorkan oleh Wikileaks.

Bocoran terakhir Wikileaks – Publica memiliki akses untuk ini – menunjukkan bahwa pendiri organisasi tersebut sering melakukan komunikasi dengan para analis dari Stratfor, sebuah organisasi yang menggabungkan metode jurnalis, politikus, analisis dan spionase untuk menjual “analisa intel” untuk para klien seperti Lockheed Martin, Raytheon, Coca Cola dan Dow Chemical – yang memonitor aktivitas para environmentalis yang menentang mereka – sama seperti halnya U.S. Navy.

Canvas ( Akronim untuk Centre for Applied Non Violent and Strategies / Pusat Penerapan Strategi dan Tanpa Kekerasan ) didirikan oleh dua pemimpin mahasiswa asal Serbia, yang berpartisipasi pada suksesnya pemberontakan yang menjatuhkan dictator Slobodan Milosevic tahun 2000. Selama dua hari, mahasiswa mahasiswa tersebut mengorganisir protest protest kreatif, berpawai dan tindakan yang mengakibatkan memuncaknya ketidakstabilan pada rezim tersebut.  Lalu, mereka mulai menyebarkan ilmu pengetahuan dari perguruan tinggi mereka, mengajar kelompok kelompok oposisi dari berbagai negara tentang bagaimana mengorganisir dan melawan pemerintah. Ini adalah cara mereka datang ke Venezuela, dimana mereka mulai melatih para pemimpin oposisi kembali ke tahun 2005. Di acara TV-nya, Hugo Chavez menuduh kelompok tersebut sebagai kelompok kudeta, dan karena dibawah perintah AS. “Ini disebut kudeta lunak” katanya.

Dokumen dokumen baru yang dianalisa oleh Publica, menunjukkan bahwa Chavez tidak 100% benar dan tidak 100% salah juga.

Awalnya di Serbia

“Waktu itu sepuluh tahun organisasi kemahasiswaan di tahun 90an”, kata Ivan Marovic, salah satu mahasiswa yang ikut protest menentang Milosevic, namun tidak mempunyai koneksi dengan group Canvas. “Akhirnya, dukungan dari seluruh dunia datang juga. Saya pasti terlalu bodoh jika menyangkalnya. Mereka memiliki peran besar pada tahap terakhir. Ya, AS datang dengan uang, tapi itu juga datang dari seluruh dunia: jerman, Perancis, Spanyol, dan Italy. Semua orang berkolaborasi sebab tak ada satupun yang akan mendukung Milosevic lagi”, katanya saat wawancara dengan Publica.

“Tergantung negaranya, mereka mendonasi dengan cara berbeda. Amerika Utara memiliki “tangan tangan kuat” yang dibentuk oleh NGO, sangat aktif dalam mendukung kelompok kelompok seperti ini, dan negara negara lain seperti Spanyol tidak seperti itu, dan dukungan datang melalui Kementrian Luar Negri”. Diantara NGO adalah NED ( National Endowment for Democracy / Sumbangan Nasional untuk Demokrasi ) – sebuah organisasi yang didanai oleh Kongres AS, Freedom House dan International Republican Institute (IRI – terkait dengan Partai Republik ), tutur Marovic. Keduanya menerima jumlah uang yang sangat besar dari USAID ( United States Agency for International Development ), yang memimpin kudeta di Amerika Selatan tahun 60an dan 70an, termasuk Brazil.

Semua NGO tersebut sangat diketahui dengan baik oleh negara negara Amerika Latin, termasuk yang terbaru. IRI, misalnya, memberikan “Kursus Pelatihan Politik” kepada 600 orang pemimpin oposisi Haiti di Republic Dominika, antara 2002 dan 2003. Kudeta terhadap Jean-Baptiste Aristide, Presiden terpilih secara demokratis, terjadi di tahun 2004. Dalam sebuah investigasi oleh Kongres AS, IRI pernah dituduh berada di belakang scenario dua organisasi yang berkonspirasi menjatuhkan Aristide. Di Venezuela, NED mengirimkan 877.000 USD untuk kelompok oposisi, beberapa bulan sebelum kudeta gagal pada 2002, sebagaimana dilaporkan oleh NYT. Di Bolivia, menurut dokumen pemerintah AS yang diperoleh Jurnalis Jeremy Bigwood – partner Publica-,  USAID menjalankan Kantor “Transisi Inisiatif” yang menginvestasi 97 juta USD dalam proyek “desentralisasi” dan “otonomi regional” sejak 2002, memperkuat propinsi yang menentang Evo Morales.
Pada kontak dengan Publica, Srdja Popovic, pimpinan Canvas, mengatakan bahwa organisasi tersebut tidak menerima bantuan dana apapun dari pemerintah, dan bahwa penyandang dana terbesar adalah bisnisman Slobodan Djinovic, yang juga pemimpin mahasiswa di masa lalu.

Bagaimanapun, presentasi organisasi tersebut, yang dibocorkan oleh Wikileaks, menunjuk para partner Canvas adalah IRI dan Freedom House, yang menerima sejumlah besar dari USAID.

Bagi peneliti Pusat Penelitian Ekonomi dan Kebijakan dari Washington, Mark Weisbrot, organisasi seperti IRI dan Freedom House “tidak mendukung demokrasi”. “Sebagian besar, mereka melakukan hal yang sebaliknya. Mereka biasanya mendukung kebijakan AS di negara negara lain, dan itu berarti sebagai oposisi bagi administrasi sayap kiri di kebanyakan negara tersebut sebagai contoh, atau bagi mereka yang tidak menyukai pemerintah AS.

Tahap dua : dari Bolivia hingga Mesir

Seperti terlihat pada presentasi yang sama, cara bekerja Canvas sangat mengesankan. Antara 2002 dan 2009, menghasilkan 106 workshop, mencapai 1.800 partisipan dari 59 negara. Tidak semuanya adalah pihak penentang dari Amerika Utara – kelompok ini telah melatih para aktivis di Spanyol, Maroko dan Azerbaijan – tapi di dalam daftar termasuk juga banyak negara : Cuba, Venezuela, Bolivia, Zimbabwe, Byelorussia, Korea Utara, Suriah dan Iran

Menurut Canvas, situasi ini sangat penting dalam semua hal yang disebut sebagai “ revolusi berwarna” yang menyebar di negara negara USSR dulu, pada tahun 2000an.

Dokumen ini menunjuk perpindahan pengetahuan bagi gerakan Kmara sebagai “kasus sukses – baik”, kembali ke tahun 2003 di Georgia. Kelompok itu meluncurkan Revolusi Mawar yang menjungkalkan sang presiden; sedikit bantuan pada Revolusi Oranye, tahun 2004, di Ukraina; dengan melatih kelompok yang meluncurkan Revolusi Cedar tahun 2005 di Libanon; beberapa proyek dengan NGO di Zimbabwe dan koalisi oposisi bagi Robert Mugabe; pelatih aktivis di Vietnam, Tibet dan Burma, selain proyek “kelompok pendukung demokrasi” di Suriah dan Iraq. Di Bolivia, mereka membantu kelompok Santa Cruz, yang merupakan kelompok oposisi Evo Morales paling loyal, saat persiapan pemilihan umum 2009 di negara tersebut.

Hingga 2009, panduan utama kelompok tersebut, “Perjuangan Tanpa kekerasan – 50 Inti Penting” telah diterjemahkan ke lima bahasa, termasuk Arab dan Persia.

Satu dari aksi Canvas yang tampak jahat adalah pelatihan kepemimpinan untuk gerakan 6 april, yang dianggap sebagai pemicu Revolusi Mesir ( Egyptian Spring ). Gerakan ini memulai organisasinya melalui facebook dalam solidaritas kepada buruh tekstil di kota Mahalla al Kubra, di Nile Delta. Itulah pertama kalinya jaringan sosial dipergunakan untuk tujuan ini di Mesir. Pada pertengahan 2009, Mohammed Adel, salah satu dari pemimpin gerakan 6 april, pergi ke Belgrade untuk bertemu Popovic.

Dalam analisa surat surat Stratfor, Popovic membanggakan dirinya dalam mempertahankan hubungan dengan para pemimpin gerakan 6 april, khusunya dengan Mohammed Adel – yang menjadi sumber utamanya untuk informasi mengenai pemberontakan di Mesir tahun 2011. Di dalam komunikasi Stratfor, ia dikenal dengan nama kode RS501.
“Kami baru saja berbicara dengan teman anda di mesir dan menemukan beberapa hal”, katanya pada 27 Januari 2011. “Besok Muslim Brotherhood akan membawa kekuatan mereka ke jalan, jadi itu bisa menjadi lebih dramatis….. kami telah memperoleh informasi yang lebih baik mengenai kelompok ini dan bagaimana mereka mengorganisir pada beberpa hari terakhir, tapi kami masih mencoba untuk mengenal mereka”.

Dokumen Dokumen Stratfor

Dari dokumen dokumen yang bocor memperlihatkan kegiatan Canvas tidak begitu independen daripada kelihatannya. Paling tidak dalam dua kesempatan, Srdja Popovic mengatakan ikut berpartisipasi dalam pertemuan National Security Council ( NSC )
Pertemuan pertama yang disebutkan terjadi 18 Desember, 2009, dan topic yang didiskusikan adalah Rusia dan Georgia. Saat itu “teman baik” Popovic bekerja di NSC, dengan kata katanya sendiri sebagai “Penasihat senior Rusia untuk Obama”, Michael Mcfaul, yang saat ini menjadi Duta Besar bagi negara tersebut.

Pertemuan yang sama ini adalah mengenai pendanaan oposisi di Iran melalui kelompok pro-demokrasi, sebagaimana yang dikatakan Popovic setelah itu, sebuah topic yang menjadi perhatian khusus baginya. “Kebijakan Iran dibuat oleh Dennis Ross, di NSC. Ada fungsi sabit atas Iran pada Departemen Luar negri dibawah Asisten Sekretaris  John Limbert. Pendanaan Program pro-demokrasi untuk Iran berkembang mulai 1,5 juta USD hingga 60 juta USD pada 2008 (….). Setelah 12 Juni 2009, NSC memutuskan untuk menetralisir akibat dari program program yang ada, yang dimulai di administrasi Bush. Rupanya, yang digarisbawahi adalah bahwa AS tidak mau terkait untuk mengganggu internal politik Iran. AS tidak mau memberikan permaafan bagi rezim Iran karena telah menolak negosiasi program nuklir”, protes orang Serbia, yang percaya bahwa administrasi Obama akan bertindak seperti “seekor gajah di toko piring” dengan kebijakan barunya. “Akibatnya, Pusat Dokumentasi Hak Asasi Manusia Iran, Freedom House, IFES dan IRI mendapatkan persyaratan banding mereka ditolak”, katanya dalam sebuah email pada awal Januari 2010.

Pertemuan Popovic yang kedua adalah di NSC yang diadakan pada pkl. 17.00 tgl 27 Juli 2011, disana Popovic berhubungan dengan analis Reva Bhalla.

“Orang orang ini sungguh luar biasa” kata sebuah email dari analis Stratfor untuk Eropa Timur, Marko Papic dengan antusias.”mereka membuka sebuah toko kecil di negri itu dan kemudian berusaha untuk menggulingkan pemerintahan. Jika dipergunakan dengan sungguh sungguh, mereka akan lebih kuat daripada pasukan penyerang udara.

Dengan ucapannya, ia menjelaskan kepada koleganya di Stratfor bahwa Canvas adalah sebuah “ekspor kelompok revolusi”- Itu masih tergantung pada bantuan dana AS, dan pada dasarnya ini berjalan ke seluruh bagian dunia mencari pemerintahan yang otokratis dan dictator untuk digulingkan ( mereka yang tidak disukai AS )”. Kontak pertama dengan pemimpin kelompok, yang  menjadi akar sumbernya, waktu tahun 2007. “Setelah itu, mereka mendapat masukan dari para intel di Venezuela, Georgia, Serbia, dll.”

Dalam surat menyurat, Popoviv mendemonstrasikan ketertarikannya pada perubahan informasi dengan Stratfor, yang mereka panggil sebagai “CIA-nya Austin”. Dalam hal ini, ia mengatur kontak dengan para aktivis di banyak negara. Selain mengurus hubungan dengan organisasi yang memiliki ideology yang sama, ia menetapkan informasi saham berharga. Sebagai contoh, pada Mei 2008, Marko berkata kepadanya bahwa sepengetahuannya Intel China akan mempertimbangkan masuk ke organisasi untuk pekerjaan mereka dengan para aktivis Tibet. “Itu sudah sangat diharapkan”, jawab Srdja. Pada 23 Mei 2011, ia menanyakan informasi mengenai otonomi daerah bagi kaum Kurdi di Iraq.

Venezuela

Salah satu tema yang paling sering dibahas dalam diskusi dengan analis Stratfor adalah Venezuela. Srdja membantu para analis untuk mengerti apa yang dipikirkan oleh oposisi. Semua komunikasi dibuat melalui email yang aman dan terlindung, sebagaimana yang dinyatakan oleh Marko Papic. Lebih dari itu, pemimpin Canvas pergi ke kantor pusat Stratfor di Austin pada tahun 2010, untuk membuat sebuah pengarahan mengenai situasi di Venezuela.

“Tahun ini, kami pastinya akan menambahkana aktivitas kami di Venezuela”, jelas seorang Serbia dalam presentasi “Analisa Situasi Venezuela” , 12 Januari 2012. Pemilu tahun itu jatuh pada bulan September, ia menyatakan bahwa “kami memiliki hubungan dengan para aktivis dan masyarakat yang mungkin dapat membantu anda”, dan melarang publikasi atau menyebarkan informasi dari apara analis. Dokumen yang dikirim melalui email tersebut, akan menjadi “dasar dari analis kami tentang rencana apa yang akan kami lakukan di Venezuela”. Pada keesokan harinya, ia menegaskan kembali dalam email berikut: “menjelaskan tentang rencana tindakan  yang kami kirimkan kemarin, hal ini jelas sebuah petunjuk revolusi”.

Publica dokumen memiliki akses, yang ditulis pada awal tahun 2010 oleh “ departemen analitik” di organisasi tersebut, dan melaporkan tidak hanya pilar pilar bagi presiden Venezuela, namun juga daftar institusi utama dan organisasi organisasi yang mendukung bahwa pemerintah ( diantara mereka adalah Angkatan bersenjata, Polisi, Pengadilan, Sektor Ekonomi Nasional, Para Guru dan Dewan Pemilihan ), sebagai pemimpin politik tertinggi dalam membentuk koalisi efisiensi dan “sekutu potensial” nya ( mahasiswa, pers independen dan internasional, sindikat, Persatuan Guru Venezuela, Rotary Club dan Gereja Khatolik).

Pada akhirnya, indikasi Canvas sepertinya benar. Di antara para pemimpin tertinggi pihak oposisi yang memiliki kemampuan mempersatukan mereka, adalah Henrique Capriles Radonski – Gubernur negara Bagian Miranda dan seorang kandidat pihak oposisi dalam pemilu bulan Oktober oleh koalisi ‘Mesa de Unidade Democratica’ -, Walikota untuk wilayah Metropolitan Caracas, Antonio Ledezma, dan Walikota sebelumnya untuk kota Chacao, leopoldo Lopez Mendoza. Juga terdaftar dua pemimpin mahasiswa, Alexandra belandria dari kelompok Cambio, dan Yon Goicochea dari Gerakan Mahasiswa Venezuela.

Target utama strategi ini adalah “menyediakan basis untuk rincian perencanaan lebih lanjut dan berpotensi untuk dilaksanakan oleh pihak pihak yang berkepentingan dan oleh Canvas”. Rencana “Rincian” ini akan dibentuk selanjutnya bersama pihak pihak yang berkepentingan.

Pada email berikutnya, Popovic menjelaskan: “Ketika seseorang meminta bantuan kami, seperti halnya di Venezuela, kami secara resmi akan bertanya : “Bagaimana anda akan melakukan hal itu? (….) Dalam hal ini kami memiliki tiga kampanye: mempersatukan pihak oposisi, kampanye untuk pemilu bulan September (….) Dalam situasi NORMAL, para aktivis datang dan bergabung dengan kami untuk bekerja bersama dalam format workshop.  Kami akan membimbing mereka, dan memberikan efisiensi untuk perencanaan sebab para aktivis yang menciptakan sendiri, itu benar benar mereka yang buat, dalam kata lain, itu asli. Kami hanya memberikan mereka sebuah alat bantu”.

Tetapi dengan Venezuela beda, sebagaimana dijelaskan oleh Popovic:”Dalam hal ini, karena benar benar bencana yang terjadi, dan kecurigaan antara kelompok kelompok oposisi dan kelompok disorganisasi, kami harus memulainya dari nol. Jika mereka ( para aktivis ) mau memproses langkah selanjutnya, tergantung apa yang diutamakan oleh mereka, dalam kata lain, jika mereka tahu bahwa kurangnya PERSATUAN dapat membuat mereka kehilangan pemilu bahkan sebelum mereka mulai.

Siapapun yang menerima laporan ini ( seperti staf Stratfor, contohnya ) pasti belajar bahwa menurut logika Canvas, tema utama yang akan dieksplorasi oleh kampanye pihak oposisi di Venezuela  adalah :

-   Kejahatan dan kurangnya perlindungan keselamatan: “Situasi menjadi memburuk secara dramatis sejak 2006. Motivasi untuk perubahan”.
-   Pendidikan :”Pemerintah mengurus Sistem pendidikan : guru perlu dihasut. Mereka akan kehilangan pekerjaan atau mendaftarkan diri mereka sendiri!. Mereka butuh keberanian dan pasti aka nada resiko. Kami harus menyakinkan mereka bahwa kalangan atas itu ada di pihak kami; mereka memiliki tanggung jawab yang kami hargai. Guru harus memotivasi murid. Siapa yang akan mempengaruhi mereka? Bagaimana menjangkau mereka?”
-   Pemuda: pesan pesan harus langsung disampaikan kepada para pemuda pada umumnya, tidak hanya kepada mahasiswa perguruan tinggi”.
-   Ekonomi:”Minyak Venezuela bukanlah milik pemerintah, ini adalah milik rakyat, ini uang kami, ini hak kalian! Program kesejahteraan bangsa”.
-   Wanita:”Apa yang diinginkan oleh para Ibu? Kontrol undang undang? Polisi bertindak dibawah pemerintahan daerah? Kami akan mempersiapkan kebutuhan untuk itu. Kami tidak mau ada preman lagi”.
-   Transportasi:”Para pekerja harus datang ke tempat kerja. Uangnya adalah milik kalian. Kita harus minta akuntabilitas, dan bagaimana caranya, kami tidak dapat melakukannya”.
-   Pemerintah: “Distribusi ulang harta kekayaan, semua orang harus mendapatkan kesempatan”.
-   “Ada kecenderungan yang sangat kuat di Venezuela. Bagaimana kita dapat mengubahnya? Bagaimana kita dapat melakukannya?”

Pada akhirnya, Popovic menyelesaikan emailnya dengan kritik mengenai orang Venezuela yang ia artikulasikan sebagai :”lebih dari itu, tidak ada yang namanya kebudayaan yang aman di Venezuela. Mereka terbelakang dan lebih banyak bicara daripada pantat pantat mereka. Ini hanya sebuah lelucon!”

Ditelusuri oleh Publica, pimpinan Canvas mengelak bahwa organisasi menguraikan rencana aksi untuk revolusi. Dan ia tidak terlalu antusias daripada “tuntunannya” yang didisain untuk  Venezuela.

“Kami mengajarkan masyarakat tentang bagaimana menganalisa dan mengerti konflik tanpa kekerasan – dan selama mempelajari proses, kami berharap para murid dan partisipan menggunakan alat bantu yang kami sediakan di kursus. Kami juga belajar dari mereka! Kemudian kami kombinasikan kerja nyata mereka dengan informasi public untuk membuat studi kasus. Dan itu ditransformasikan dalam analisa panjang oleh dua orang magang. Kami menggunakan penelitian tersebut dan membaginya dengan murid murid yang lain, aktivis, peneliti, professor, organisasi dan jurnalis yang bekerja sama dengan kami – yang tertarik dalam memahami fenomena people power.

Ditanya, Popovic juga merespon kritik yang dibuat oleh Hugo Chavez dalam acara TV-nya: “Ini adalah formula yang sangat dikenal……selama puluhan tahun, rezim berkuasa di seluruh dunia membuat ‘eksport-jenis revolusi’ dituduh sebagai penyebab utama terjadinya pemberontakan di negara mereka. Gerakan pro-Demokrasi Serbia sangat jelas dituduh telah menjadi alat AS dalam pernyataan di TV dan Milosevic, bahkan sebelum pemerintahan itu ditumbangkan oleh para mahasiswa. Hal itu juga berlaku di Iran, Zimbabwe, Byelorussia….”

Kolega sebelumnya dari gerakan mahasiswa, Ivan Marovic – yang memberikan ceramah tentang bagaimana protes di Serbia telah menurunkan Milosevic belakangan ini, dan yang tidak memiliki koneksi dengan Canvas – setuju dengannya: “Tidak mungkin untuk mengekspor sebuah Revolusi. Saya selalu katakan dalam ceramah saya bahwa hal yang paling penting dalam mensukseskan perubahan sosial adalah dengan memiliki kaum mayoritas di pihak anda. Apabila presiden memiliki kaum mayoritas di pihaknya, maka takkan terjadi apa apa. “

Namun,  Marovic mengevaluasi bahwa perubahan telah terjadi di saat pemerintah melihat “Afiliasi NGO”, terutama di AS, setelah revolusi Serbia tahun 2000, dan “revolusi berwarna” yang mengikuti di Eropa Timur. “Satu bulan setelah kami menumbangkan Milosevic, The New York Times mempublikasikan sebuah artikel yang mengatakan bahwa sesungguhnya yang menumbangkan Milosevic adalah penyandang dana AS.  Mereka menambah peran mereka. Dan sekarang mereka percaya bahwa uang AS dapat menumbangkan pemerintahan. Mereka mencoba hal yang sama di Byelorussia, mengirimkan sejumlah besar uang kepada NGO, namun tidak berhasil”.

Peneliti Mark Weisbrot ikut menyetujui Marovic. Tak ada kelompok asing, bahkan yang kecilpun, dapat menyebabkan sebuah revolusi dalam sebuah negara pastinya. Bagi dia, bukan uang pemerintah Amerika Utara yang mebuat perubahan – NGO didanai melalui NSC, USAID atau Departemen Luar Negri.”Para Elite Venezuela tidak membuatuhkan uang. Apa yang disetujui oleh kedua kelompok finance AS (dari yang lalu hingga sekarang ) ini adalah dua hal: i) kemampuan dan pengetahuan untuk menumbangkan rezim; ii) dan dukungan ini mempersatukan semua peran.  Oposisi dapat dipecah belah dan mereka dapat membuatnya bersatu”. Baginya, sering kali AS mensponsori sebuah “pengaruh buruk” pada gerakan yang sah. “Selalu ada rakyat yang bertempur demi demokrasi di negri mereka, dengan beragam tuntutan, reformasi lahan, perlindungan sosial, pekerjaan…..Dan yang terjadi adalah mereka memimpin semua gerakan dengan uang yang sangat banyak, diinspirasikan oleh kebijakan yang diminati oleh AS. Seringnya, kelompok kelompok demokrasi yang menerima uang ini berakhir dengan kejatuhan tanpa reputasi apapun.”

THE END
« Last Edit: August 14, 2012, 12:45:36 PM by elviraismoyo »
elvis