Author Topic: Bahasa Indonesia; Suriah : Branding The Dictatorship  (Read 1800 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline elvis

  • Moderator
  • *****
  • Posts: 45
  • Gender: Female
  • I Am Free
Bahasa Indonesia; Suriah : Branding The Dictatorship
« on: July 21, 2012, 17:51:17 PM »
"This article has been translated by a volunteer translator. Neither WL  or The Official WikiLeaks Forum shall be held accountable for errors.  The reader is welcome to check him/herself the original source linked  below, and to comment if there is an error or misinterpretation. If an  error is identified we shall endeavour to correct it"


Forum URL: http://www.wikileaks-forum.com/index.php/topic,12875.0.html
Original URL: http://owni.eu/2012/07/11/syria-files-the-dictator-brand-us-syria-pr/


Suriah : Cap Buruk Kediktatoran

Dokumen dokumen yang diperoleh oleh Wikileaks dan diungkapkan oleh Owni mengindikasikan bahwa Perusahaan PR Besar di AS Brown Lloyd James, terus memberikan nasihat kepada PR keluarga Assad selama repressi brutal dictator Suriah itu terhadap warganya.

Pada Maret 2011, sebagaimana negara negara di Arab bergerak di bawah kekuasaan rezim , majalah Vogue malah mempublikasikan  potret  mengenai Asma al-Assad, istri dari dictator Suriah, dengan sederhana, berjudul “Setangkai Mawar di Padang Pasir”

Diilustrasikan oleh photographer James Nachtwey dan ditulis oleh Joan Juliet Buck, yang pernah sebagai pemimpin redaksi dari Vogue Perancis, article ini telah dihapus dari website Vogue ( bisa saja, namun, masih bisa dilihat melalui archive.org ).

Di AS, akan segera muncul lusinan artikel yang mencela artikel seperti itu, yang diterbitkan justru beberapa hari sebelum pecah revolusi di Suriah, dan caranya yang terlihat ‘memanusiakan’ sang dictator dengan menunjukkan betapa cantik dan baiknya sang istri.
Artikel semacam itu kemungkinan tak akan pernah ada tanpa ketrampilan orang seperti Mike Holtzman dan tempatnya bekerja, perusahaan Public Relation Brown Lloyd James.

Mike Holtzman pernah menjabat sebagai Direktur Urusan Publik dan Hubungan Luar Negri AS di departemen Luar Negri AS dan kantor Eksekutif pada masa President Bill Clinton, dan diangkat sebagai “media penghubung” di Ground Zero pada September 2001. Holtzman menjadi sangat populer di dunia PR karena membantu China memenangkan Olympiade 2008, sesuatu yang membuatnya mendapatkan julukan “Public Relation of the Year” dari majalah PRWeek, dan pekerjaan dari Brown Lloyd James.

Dibentuk oleh Peter Brown, pernah sebagai asisten The Beatles, dan Sir Nicholas Lloyd, yang sebelumnya sebagai jurnalis di Daily Express, perusahaan public relation, yang baru baru ini membantu Qatar untuk mendapatkan hak menjadi tuan rumah FIFA World Cup 2022, memiliki daftar klien mulai dari Russi Today hingga Disneyland Paris, Kerajaan Monaco dan Al Jazeera, dengan focus khusus pada negara negara Arab dan negara negara Muslim.

Pada 2001, Mike Holtzman menulis sebuah opini di the New York Times yang dinamakan sebagai privatisasi diplomasi, bertujuan untuk meningkatkan hubungan antara AS dan Timur Tengah. Pada 2003 ia menulis yang kedua, mengkritik penggunaan propaganda Amerika di negara negara Arab Muslim.

Pada 2009, Brown Lloyd James juga bekerja atas nama Muammar Gaddafi, membantunya mempublikasikan sekelumit opininya di The New York Times, memfasilitasi kunjungan yang mengesankan ke Markas PBB di New York ( dimana ia menuduh Dewan Keamanan menjadi “Dewan Teror, sebab terorisme bukan hanya al-Qaida”), dan melobi untuk mengadakan pertemuan antara President George W Bush dan anak laki laki Gaddafi

Brown Llyod James selalu menolak untuk menjawab pertanyaan dari pers. Namun memo dari Departemen Kehakiman AS mengkonfirmasikanbahwa perusahaan tersebut mempunyai kontrak dengan Suriah, untuk memperbaiki citra Asma al-Assad di dunia. Perusahaan ini menyatakan bahwa pekerjaan dengan pemerintah Suriah telah berakhir  pada Desember 2010, kira kira waktu mereka tengah mengorganisir, menurut The Guardian, wawancara dengan Asma al-Assad.

Pada bulan yang sama pada Desember 2010, majalah Perancis Paris Match juga bertemu dengan istri dari dictator Suriah, selama kunjungan resmi keluarga al-Assad ke Paris, dan menandai kesempatan tersebut dengan wawancara sebanyak empat halaman berjudul “Sepasang kekasih di Paris”.  Ketika dikontak oleh Owni, Régis Le Sommier, reporter Paris Match yang menulis artikel tersebut, menunjukkan bahwa ia  “tidak pernah mengadakan kontak dengan Brown Lloyd James atau Mike Holtzman”.
Namun, satu dari 2,434,899 email yang diterima oleh Wikileaks sebagai bagian dari operasi Suriah Files, yang ditandai “tergolong rahasia” mengungkapkan keberadaan Mike Holtzman di Paris bersama Asma al-Assad pada Desember 2010.

Email dan dockumen lainnya mengindikasikan bahwa ia melanjutkan memberi nasihat kepada dictator Suriah tersebut hingga Januari 2012, saat repressi rezim Assad menyebabkan ratusan bahkan ribuan orang mati. Seorang “Superhero”.

Beberapa email, digali oleh operasi Syria Files dan dikonfirmasi oleh artikel di Foreign Policy, juga menunjukkan bahwa Mike Holtzman, yang seharusnya sudah berhenti bekerja dengan Suriah pada Desember 2010, pergi ke Opera dar al-Assad di Damascus menghadiri konferensi pada 9 February 2011.

Di email yang pertama, Rachel Walsh, yang bekerja untuk Brown Llyod James di Qatar, menulis kepada Sondos Sosi, kepala bagian hubungan pers Kementrian Suriah Urusan Kepresidenan, bahwa “kolega Sheherazad Jaafari telah menasihatinya untuk mengirim beberapa dokumen sehubungan dengan konferensi pada 9 february”.

Sheherazad Jaafari bukanlah sembarang orang, ia adalah anak perempuan Duta Besar Suriah untuk PBB dan penasihat komunikasi untuk keluarga al-Assad, ia telah selesai magang di Brown Lloyd James, dan Mike Holtzman pernah menjadi “boss” nya. Pada lanjutan pesan yang dikirim kepada Sondos Sosi, ia menyertakan tabel kursi kursi yang sudah dipesan untuk konferensi di bulan February. Baris terdepan tidak hanya ditempati  oleh anggota pemerintah Suriah sebagai perwakilan asing, tapi juga oleh Asma al-Assad, istri Bashar, dan kursi disebelahnya untuk Mike Holtzman.

Beberapa jam kemudian, Sondos Sosi mengirimkan program malam untuk Luna Chebel melalui email, konsultan hubungan pers al-Assad juga dan pernah sebagai jurnalis di Al Jazeera. Mike Holtzman yang bertugas sebagai “Master of Ceremony di acara tersebut”, bertanggung jawab memperkenalkan semua tamu yang hadir.

Malam itu, sebulan sebelum pemberontakan di Suriah mulai, Mike Holtzman mengeluarkan “The Silver Scorpion”, sebuah buku komik yang menceritakan tentang seorang  pemuda Arab dengan kedua kaki diamputasi setelah menginjak ranjau darat, ditulis oleh pemuda Suriah dan Amerika yang cacat, dan diproduksi oleh Open Hands Initiative NGO – dimana Mike Holtzman duduk sebagai Dewan Penasihat – untuk membuka “fase diplomasi baru” antara AS dan negara negara Arab Muslim…….. ‘Tidaklah penting untuk menghancurkan suatu negara”.
The Syria Files mengungkapkan hal lainnya, bahkan dokumen yang lebih memalukan. Pada 19 mei 2011, Mike Holtzman mengirimkan kepada Fares Kallas, orang kepercayaan Assam al-Assad, sebuah “memorandum” berjudul “Analisa Krisis Komunikasi”. Di dalamnya ia menjelaskan apa yang dibutuhkan hingga citra Suriah tidak terlalu tercemar oleh kampanye brutal repressi yang dimulai sejak dua bulan sebelumnya.

Hal ini jelas dari pernyataan pemerintah AS sejak awal terjadinya demonstrasi public di Suriah bahwa Administrasi Obama menginginkan kepemimpinan di Suriah untuk tetap bertahan.  Tidak seperti responnya terhadap negara negara lain di wilayah itu, tidak ada tuntutan AS untuk perubahan rezim di Suriah maupun panggilan untuk intervensi militer.

Memorandum itu menggarisbawahi bahwa posisi AS mungkin saja berubah tergantung, khususnya, pada cakupan media, dan menyesalkan “ketidakseimbangan dalam pendekatan komunikasi Suriah sejak awal terjadinya krisis”.
Jika tindakan keras diperlukan untuk memadamkan pemberontakan, tindakan lunak diperlukan untuk meyakinkan orang-orang Suriah dan penonton di luar bahwa reformasi berjalan dengan cepat, keluhan yang sah sedang ditangani dan dianggap serius, dan bahwa tindakan Suriah pada akhirnya bertujuan untuk menciptakan suatu lingkungan di mana perubahan dan kemajuan dapat berlangsung

Pada awal mei, ketika Mike Holtzman menulis memorandum tersebut, NGO memperkirakan bahwa sekian ratus telah terbunuh oleh tentara, dan ribuan lainnya telah ditangkap. Holtzman membatasi dirinya untuk memperingatkan prsiden Suriah atas resiko “kegelisahan dan ketidakstabilan" jika kebetulan para demonstran dikirim pulang karena takut bukan oleh "keyakinan bahwa pemerintah mereka responsif terhadap keprihatinan mereka".

   Suriah sepertinya berkomunikasi dengan dua tangan. Satunya menawarkan reformasi dan satunya lagi, hukum dan undang undang. Hukum dan undang undang adalah tangan yang terkepal ( tinju ). Reformasi adalah tangan yang terbuka. Saat ini tinjulah yang diperlihatkan kepada dunia luar dan kemungkinan untuk banyak orang Suriah, seolah-olah itu adalah sepuluh kali lebih besar dari telapak terentang. Mereka harus dibawa kepada keseimbangan yang lebih baik.


Brown Llyod menyarankan agar supaya Presiden Suriah melakukan komunikasi lebih sering, ketika “the First Lady” dibutuhkan untuk tampil dalam permainan…….kuncinya adalah menunjukkan kekuatan dan simpati pada saat yang bersamaan.”
Perusahaan consultant ini juga menyarankan untuk meluncurkan kampanye pers internasional yang menjelaskan kesulitan yang dihadapi oleh Bashar al-Assad dalam komitmennya untuk mereformasi, juga untuk menunjukkan komunikasi “dalam hal keamanan” yang terlihat oleh public untuk memberikan hukuman kepada pasukan keamanan yang, tidak menghargai perintah langsungnya, menembaki rakyat sipil yang tidak bersenjata.

   Ini akan menjadi cara tegas menunjukkan bahwa siapa pun yang melanggar hukum-apakah mereka menjadi demonstran atau tentara-harus bertanggung jawab.
Untuk menghadapi publisitas buruk yang berasal dari "tokoh oposisi Suriah" yang tinggal di luar negeri, dan juga untuk menangkal "semburan kritik harian dan kebohongan", Brown Lloyd James juga menyarankan menerapkan 24 jam unit pengawasan media "dengan aset di Inggris dan pasar AS" . Selanjutnya:

     Situs media sosial harus dimonitor dan situs situs palsu harus dhapus.

Kesimpulannya, Brown Llyod James menyarankan untuk menarik rasa patriotism masyarakat Suriah dalam rangka untuk menekankan fakta bahwa “tidak perlu menghacurkan sebuah negara untuk mencapai tujuan semua orang : sebuah negara bebas dan makmur”. Holtzman berfokus pada dua rekomendasi.

   Mengakui bahwa kekerasan yang terjadi sangat disesalkan. Namun kepemimpinan tidak menginginkan hal tersebut. Kepemimpinan wajib melindungi Suriah dan menciptakan kondisi yang diperlukan untuk melakukan reformasi.
     Melanjutkan mengekspresikan kepercayaan di masa depan, dan bahwa krisis telah berkurang.

Pierre Leibovici melaporkan.

http://owni.eu/2012/07/11/syria-files-the-dictator-brand-us-syria-pr/

NB: This article is the english version (made by themselves) of the article in french published originally in OWNI.fr: http://owni.fr/2012/07/06/le-dir-com-americain-de-la-syrie/
« Last Edit: July 22, 2012, 00:31:07 AM by Green »
elvis